Apakah Lisan Bisa Menjadi jembatan Keridhaan Allah yang Menuntun ke Surga ?

“Hanya dgn Kata2” – Menakar baik burukny Lisan qt

Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah  dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. An-Nahl : 125)

Menahan diri dari kelebihan berbicara akan menutup pintu-pintu syaitan.” (Ibnul Qayyim rahimahullah)

Bg qt2 yg tau pengaruh n efek dr kata2, pasti akn sangat hati b’ucap. Kadang sbgian qt mengakhiri kata2 qt dalam sbuah dialog dgn Istighfar atau Wallahu’alam. Itu smua adalah slhsatu attitude yg tepat drpd kata2 qt asal aj yg t’ucap ddpn org lain. Diantara ulama ada yg mngatakan, “Sesungguhnya Allah Swt menciptakan alam ini dengan kata-kata. Mengangkat langit dengan kata-kata. Menciptakan Adam ra dengan kata-kata. Karena kata-kata kita bisa hidup. Dan karena kata-kata kita bisa menjadi hina. Karena kata-kata, dihari kiamat timbangan seseorang menjadi berat. Karena kata-kata timbangan seseorang menjadi ringan.”

 

Rasulullah saw bersabda, “Sungguh seorang hamba mengeluarkn satu kata yang diridhai Allah Swt, yang ia tidak sadari sama sekali perkataan itu, tapi Allah Swt mengangkat derajatnya dengan perkataannya itu. Dan sungguh seorang hamba mengeluarkan satu kata yang menyebabkan kemurkaan Allah yang ia tidak sadari sama sekali perkataan itu, tapi kemudian karena perkataan itu ia dimasukkan ke dalam Jahannam” (HR. Bukhari dan Muslim)

 

Kata2 tak ubahny spt nafsu atau syahwat. Itu sbabny puasa kata2, bg umat t’dahulu, m’jd suatu bntuk ibadah yg bisa me’dkatkn diri kpd Allah Swt. Ketika manusia mrasa smbong dgn diriny, merasa bangga dgn akal pikiranny, mk skp diam, m’jd kharusan u/ mmlihra hati dr b’bagai kesalahan. Sikap diam merupakan pilihan sulit, krn t’kdg qt merasa suatu keharusan pula u/ bicara. Krn tdk bnyk org bs melakukan kehati-hatian dlm mngambil pilihan antara bicara atau tdk kecuali mrka yg tau betapa bsar dampak dr sbuah kata-kata yg diucapkn. Dan tau bahwa ada p’kataan yg bs m’jd sbab kecelakaan n kesngsaraan.

Krn itulah bnyk org trutama para ulamajg bnyk menasehati qt untuk mampu mngndalikan lisan. Bgimn b’retorika yg baik, kluar lisan yg baik, ttp tawaduk dlm pnyampaian n sgra dtrima jg dnikmati o/ org lain. Para salafusshalih tdk suka b’bcr b’lebihan dlm bcra. Mnrt Ibnul Qayyim Al Jauziyah rahimahullah, kelebihan berbicara sama saja membuka pintu keburukan bagi seseorang. Dan keburukan itu seluruhnya adalah celah masuknya syaitan. “Karenanya, menahan diri dari kelebihan berbicara akan menutup pintu-pintu syaitan itu.”

B’bcralah dwktu yg saat yg tpat n bgimn trikny???

Nah sblumny, pnting skali diingat, mski qt dianjurkn u/ mmlihara n hati2 dlm b’bcr, adakalany qt danjurkn n bhkn wajib malahan u/ b’bcra. T’kdg dpt mnyebabkn sseorang m’dptkn petunjuk, n mngalami mngalami prubhn dr kndisi yg tdk baik m’jd lbh baik. Krn tu stiap p’bcraan qt hrslh t’dpt muatan “rasa / perasaan” n tntuny bdsrkn niat u/ ”mngdpan kebnaran n kebaikan”. Maka stiap p’kataan walaupun pendek atau singkat tp d momen atau kesmpatan yg tepat n pnting, InsyaAllah akn dirasakn b’manfaat bg phk lain. Jgn pula qt mskkn dsna niat atau keinginan u/ mngalahkn atau m’jatuhkn lwn bcr, srta dianjurkn ttaplh b’sikap ”tawaduk” n trus mngambil ilmu dr kwn atau lwn bcr qt.

Cb qt liat pngalaman Sulaiman Ad Daarani. “Aku pernah hadir di sebuah forum  dan mendengarkan ceramah yang begitu menyentuh hati. Tapi ketika aku bangkit dan pergi, seperti tak ada lagi yang tersisa dari pembicaraan yang kudengar tadi. Kemudian aku kembali ke majelis itu untuk kedua kalinya. Seperti semula, perkataan yang kudengar sangat menyentuh hati tapi bedanya, perkataan yang kudengar itu tetap kurasakan pengaruhny setelah aku pergi dan melakukan perjalanan. Hingga akhirnya aku datang lagi ke tempat itu untuk yang ketiga kalinya, dan mendengarkan perkataan yang begitu menyentuh hati, hhingga pengaruhnya kurasakan sampai aku tiba di rumah.” Dari kisah ni menandakan ada p’kataan yg jstru mmerlukn pnympaian b’ulangkali kpd ssorg.

Oya hany dgn bbrp kata, qt ingat b’sm, Yusuf as bs msk penjara bbrp thn. Dgn bbrp kalimat Allah pd surat Thaha yg m’gugah Umar bin Khattab shg dtg hidayah memeluk Islam. Sungguh dahsyat rasany kn!? Dari kata2 bs jd fasilitator dtgny hidayah Allah, dgn tntuny izin dr Allah Azza wa Jalla, n ssungguhny qt hny bs ikhtiyar slalu.

Mdh2n kdpn qt mmpu lbh baik dlm b’lisan n trus b’hati2 dlm menata lisan yg kluar dr mulut qt. Silahkn qt cb b’sm trik2 yg ada dats shg Allah ridha apa yg qt smpikn dstiap ksmptn bcr, n m’dpt nilai yg baik d mata lwn bcr. Wallahu’alam bisshawwab.

“Kebenaran itu adalah dari Tuhanmu, sebab itu jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu.” (QS. Al-Baqarah : 147)


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: