Memilih Pejabat…

Nah mumpung kita sebentar lagi akan memilh pemimpin Sumatera Barat, di bawah ini ada tulisan yang mudah-mudahan jd bahan pertimbangan kita memilih pemimpin Sumbar lima tahun ke depan.

Ketika baru dibaiat sebagai khalifah, Umar bin Abdul Aziz meminta masukan dan anasihat dari sejumlah tabiin terkemuka. Satu per satu menyampaikan masukannya. Umar bin abdul Aziz pen mendengarkan dengan seksama. Sampai giliran Tahwus bin Kaisan, ia berkata singkat, “Jika anda ingin membangun tata kelola pemerintahan yang baik, pililah orang-orang baik sebagai pejabat.”

Masukan Thawus tersebut barangkali tidak sementereng teori-teori pemberantasan korupsi yang ramai dikemukakan dewasa ini. Namun, ketika teori yang mentereng itu tak jua berhasil, bahkan iming-iming remunerasi pun berujung pada semakin maraknya praktik penilapan uang rakyat. Kini, apa yang disampaikan Thawus menjadi menarik untuk direnungkan kembali.

Dari teladan Rasulullah Saw dan Khulafaurrasyidin ra., paling tidak ada tiga kriteria orang baik yang membuatnya layak diamanahi suatu jabatan. Pertama, ia tidak terlalu berambisi merengkuh jabatan itu, apalagi sampai menghalalkan segala cara.

Dalam sebuah hadits shahih dari Abu Musa Al-Asyari, Rasulullah Saw bersabda, “Demi Allah, aku tidak akan menyerahkan suatu jabtan kepada orang yang memintanya atau berambisi mendapatkanya.” (HR. Muslim).

Sebab, ketika seseorang sampai menghalalkan segala cara untuk memperoleh suatu jabatan, bisa dipastikan ia akan sulit berlaku amanah. Alih-alih diharapkan berkorban untuk kesejahteraan rakyat, ia justru akan sibuk mengembalikan modal yang pernah dikeluarkannya, memperkaya diri, dan mencari prestise lewat jabatan yang diemban tersebut.

Kedua, ia taat beribadah dan memiliki relasi sosial yang baik. Ketika Umar bin Khattab ra. mngangkat Nafi’ bin al-Harits sebagai gubernur Makkah, Nafi’ memilih Ibnu Abza untuk mengepalai masyarakt yang tinggal di daerah lembah dekat mekkah. Padahal, Ibnu Abza hanyalah bekas budak di komunitas tersebut. Saat Umar bin Khattab mengonfirmasikan hal itu, Nafi’ menjawab “Ia memang bekas budak, tetapi ia hafal Al Qur’an paham masalah faraidl (waris), dan sering memutuskan persoalan masyarakat dengan adil.” (HR. Ahmad). Maka, Umar pun memuji piliha Nafi’ karena melihat kapabilitas dan tingkah akseptabilitas Ibnu Abza. contoh lainnya, ada saat Umar juga memilih gubernur Sa’id bin Amir.

Ketiga, ia adalah pribadi yang sederhana dalam kesehariannya. Sebab, hanya pejabat dengan gaya hidup yang sederhanalah yang bisa imun(tahan) dari godaan kemewahan dunia. Sebaliknya, gaya hidup mewah sangat potensial menjerumuskan seorang pejabat untuk melakukan korupsi walaupun telah dimanjakan dengan gaji dan hal-hal lainnya yang lebih dari cukup. Padahal, Rasulullah Saw. telah menegaskan bahwa pejabat  yang curang dan korup tidak akan pernah mencium wangi surga (HR. Bukhari dan Muslim).

Wallahu’alam

Oleh Abdullah Hakam Shah MA dengan penambahan seperlunya.

Nah, sudah tau dong yang mana mau kita pilh di Pemilukada Sumbar 30 Juni 2010 kn!?


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: