Monthly Archives: June 2010

Memilih Pejabat…

Nah mumpung kita sebentar lagi akan memilh pemimpin Sumatera Barat, di bawah ini ada tulisan yang mudah-mudahan jd bahan pertimbangan kita memilih pemimpin Sumbar lima tahun ke depan.

Ketika baru dibaiat sebagai khalifah, Umar bin Abdul Aziz meminta masukan dan anasihat dari sejumlah tabiin terkemuka. Satu per satu menyampaikan masukannya. Umar bin abdul Aziz pen mendengarkan dengan seksama. Sampai giliran Tahwus bin Kaisan, ia berkata singkat, “Jika anda ingin membangun tata kelola pemerintahan yang baik, pililah orang-orang baik sebagai pejabat.”

Masukan Thawus tersebut barangkali tidak sementereng teori-teori pemberantasan korupsi yang ramai dikemukakan dewasa ini. Namun, ketika teori yang mentereng itu tak jua berhasil, bahkan iming-iming remunerasi pun berujung pada semakin maraknya praktik penilapan uang rakyat. Kini, apa yang disampaikan Thawus menjadi menarik untuk direnungkan kembali.

Dari teladan Rasulullah Saw dan Khulafaurrasyidin ra., paling tidak ada tiga kriteria orang baik yang membuatnya layak diamanahi suatu jabatan. Pertama, ia tidak terlalu berambisi merengkuh jabatan itu, apalagi sampai menghalalkan segala cara.

Dalam sebuah hadits shahih dari Abu Musa Al-Asyari, Rasulullah Saw bersabda, “Demi Allah, aku tidak akan menyerahkan suatu jabtan kepada orang yang memintanya atau berambisi mendapatkanya.” (HR. Muslim).

Sebab, ketika seseorang sampai menghalalkan segala cara untuk memperoleh suatu jabatan, bisa dipastikan ia akan sulit berlaku amanah. Alih-alih diharapkan berkorban untuk kesejahteraan rakyat, ia justru akan sibuk mengembalikan modal yang pernah dikeluarkannya, memperkaya diri, dan mencari prestise lewat jabatan yang diemban tersebut.

Kedua, ia taat beribadah dan memiliki relasi sosial yang baik. Ketika Umar bin Khattab ra. mngangkat Nafi’ bin al-Harits sebagai gubernur Makkah, Nafi’ memilih Ibnu Abza untuk mengepalai masyarakt yang tinggal di daerah lembah dekat mekkah. Padahal, Ibnu Abza hanyalah bekas budak di komunitas tersebut. Saat Umar bin Khattab mengonfirmasikan hal itu, Nafi’ menjawab “Ia memang bekas budak, tetapi ia hafal Al Qur’an paham masalah faraidl (waris), dan sering memutuskan persoalan masyarakat dengan adil.” (HR. Ahmad). Maka, Umar pun memuji piliha Nafi’ karena melihat kapabilitas dan tingkah akseptabilitas Ibnu Abza. contoh lainnya, ada saat Umar juga memilih gubernur Sa’id bin Amir.

Ketiga, ia adalah pribadi yang sederhana dalam kesehariannya. Sebab, hanya pejabat dengan gaya hidup yang sederhanalah yang bisa imun(tahan) dari godaan kemewahan dunia. Sebaliknya, gaya hidup mewah sangat potensial menjerumuskan seorang pejabat untuk melakukan korupsi walaupun telah dimanjakan dengan gaji dan hal-hal lainnya yang lebih dari cukup. Padahal, Rasulullah Saw. telah menegaskan bahwa pejabat  yang curang dan korup tidak akan pernah mencium wangi surga (HR. Bukhari dan Muslim).

Wallahu’alam

Oleh Abdullah Hakam Shah MA dengan penambahan seperlunya.

Nah, sudah tau dong yang mana mau kita pilh di Pemilukada Sumbar 30 Juni 2010 kn!?


Selamat Datang, Malam-Malam Piala Dunia

Perhelatan Piala Dunia di Afrika Selatan 2010 hanya tinggal hitungan jam saja. Tidak kurang dari dua hari lagi. Gaungnya, sudah jauh-jauh hari terasa di negara yang tak punya perwakilannya bernama Indonesia. Media massa terus mengupas, dan di semua sudut jalanan terlihat pamflet, banner, dan spanduk besar.

Mulai besok, setiap malam dipastikan setiap penjuru dunia ini, juga di pelosok-pelosok pengap di Indonesia, akan menjadi ramai dan hangat. Di kafe, lapangan, warung kopi, dan juga di rumah-rumah. Tak terkecuali, di wilayah yang penduduknya mayoritas Muslim.

Selama lima tahun sekali, mungkin inilah juga salah satu periode ironik dalam hidup kita sebagai seorang Muslim. Walaupun mudah-mudahan tidak, tetapi tampaknya, selama Piala Dunia berlangsung, sebagian besar dari kita akan juga mengubah jam tubuh kita; tanpa disadari berazam kuat untuk bangun malam, begadang menonton pertandingan-pertandingan. Jika tidak semuanya, mungkin sebagian besarnya, mungkin setengahnya, atau mungkin beberapa pertandingan di antaranya.

Andaikata, energi Piala Dunia ini juga dilakukan untuk hal lain di jam yang sama, di waktu yang lain, yaitu melakukan muwajahah dengan Allah swt di malam-malam yang hening dan sunyi. Di mana kita berdiri, bangun dari tidur di sepertiga malam, mengambil wudhu, melakukan qiyyamulail, dan tilawah. Maka, setiap malam di rumah setiap Muslim akan terasa hangat, untuk seluruh keluarga. Kondisi yang sama juga yang dirasakan oleh seluruh keluarga ketika siaran Piala Dunia ditayangkan, hangat dan bahkan panas, namun dengan tujuan dan pencapaian yang sama sekali jauh berbeda.

Coba bayangkan, jika hal ini kita terapkan di malam-malam yang lain (atau juga malam-malam ini?); membangunkan tidur seluruh keluarga di malam hari untuk sama-sama qiyyamulail dan tilawah Quran, dan rumah kita pun menjadi hangat.

Mungkin ada apologi itu: Piala Dunia hanya empat tahun sekali. Tetapi, coba tanyakan kepada diri sendiri; bagaimana dengan waktu-waktu malam-malam lain yang selama ini terlewatkan?

“Bangunlah (untuk salat ) di malam hari, kecuali sedikit (daripadanya), (yaitu) seperduanya atau kurangilah dari seperdua itu sedikit. Atau lebih dari seperdua itu. dan Bacalah Al Quran itu dengan perlahan-lahan. Sesungguhnya kami akan menurunkan kapadamu perkataan yang berat. Sesungguhnya bangun di waktu malam adalah lebih tepat (untuk khusyuk) dan bacaan di waktu itu lebih berkesan. Sesungguhnya kamu pada siang hari mempunyai urusan yang panjang (banyak). Sebutlah nama Tuhanmu, dan beribadatlah kepada-Nya dengan penuh ketekunan.” ( Al-Muzammil: 2-8 )

eramuslim.com