Monthly Archives: January 2010

Profil Muslim / Muslimah

PROFIL SEORANG MUSLIM / MUSLIMAH


SALIMUL AKIDAH (Akidah yang lurus)

Setiap individu dituntut memiliki akidah yang lurus yang hanya dapat di peroleh dengan pemahaman yang benar dan integral terhadap al-quran dan as sunah

SHAHIHUL IBADAH (Ibadah yang benar)

Setiap individu dituntut untuk beribadah sesuai dengan petunjuk yang telah disyari’atkan oleh Rasulullah SAW., tidak kurang dan tidak lebih.

MATINUL KHULUK (Akhlak yang tangguh)

Setiap individu dituntut memiliki akhlak yang mulia sebagaimana yang telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW.

QARIDUN ‘ALAL KASBI (Bermata pencaharian)

Setiap individu dituntut untuk mandiri secara ekonomi, bermata pencaharian atau tidak menganggur.

MUTSAQQAFUL FIKRI (Wawasan yang luas)

Setiap individu dituntut memiliki wawasan yang luas, baik dalam urusan agama atau umum.

Continue reading


Sandi-sandi Polisi

Sandi-sandi rahasia Polisi


buat yang sering nonton buser mungkin udah sering dengan istilah “86”, “halong irian” dsb dsb… sebenarnya tau gak arti dari kode/sandi2 itu?

nah ini rekapan sandi yang lazim digunakan oleh POLRI.

untuk “kasta” tertentu punya sandi yang MASIH RAHASIA.
maksud dari kasta adalah :

– reserse
– intel
– densus

SANDI ANGKA

* 1-1 : Hubungi per telepon
* 1-4 : Ingin bicara diudara (langsung)
* 3-3 : Penerimaan sangat jelek/orang gila
* 3-3L : Kecelakaan korban luka
* 3-3M : Kecelakaan korban material
* 3-3K : Kecelakaan korban meninggal
* 3-3KA : Kecelakaan kereta api
* 3-4-K : Kecelakaan, korban meninggal, pelaku melarikandiri
* 4-4 : Penerimaan kurang jelas
* 5-5 : Penerimaan baik/sehat
* 8-4 : Tes pesawat/penerimaann ya
* 8-6 : Dimengerti
* 8-7 : Disampaikan
* 8-8 : Ingin berjumpa langsung
* 10-2 : Posisi/keberadaan
* 10-8 : Menuju
* 2-8-5 : Pemerkosaan
* 3-0-3 : Perjudian
* 3-0-1: lagi kimpoi
* 3-3-8 : Pembunuhan
* 3-6-3 : Pencurian
* 3-6-5 : Perampokan
* 8-1-0 : Pembunuhan
* 8-1-1 : Hidup
* 8-1-2 : Berita agar diulangi (kurang jelas)
* 8-1-3 : Selamat bertugas
* 8-1-4 : Laporan/pembicaraan terlalu cepat
* 8-1-5 : Cuaca
* 8-1-6 : Jam/waktu
* 8-1-9 : Situasi

SANDI HURUF

Continue reading


SEBUAH DIALOG SELEPAS MALAM

SEBUAH DIALOG SELEPAS MALAM


“Ustadz, dulu ana merasa semangat saat aktif dalam da’wah. Tapi belakangan rasanya semakin hambar. Ukhuwah makin kering. Bahkan ana melihat ternyata ikhwah banyak pula yang aneh-aneh.”Begitu keluh kesah seorang mad’u kepada seorang murabbinya di suatu malam. Sang murabbi hanya terdiam, mencoba terus menggali semua kecamuk dalam diri mad’unya. “lalu apa yang ingin antum lakukan setelah merasakan semua itu ? ” sahut sang murabbi setelah sesaat termenung. ” Ana ingin berhenti saja, keluar dari tarbiyah ini. Ana kecewa dengan prilaku beberapa ikhwah yang justru tidak Islami. Juga dengan organisasi dakwah yang Ana geluti; kaku dan sering mematikan potensi anggota-anggotanya. Bila begini terus, Ana mendingan sendiri saja.” Jawab mad’u itu.

Sang murabbi termenung kembali. Tidak tampak raut terkejut dari roman di wajahnya. Sorot matanya tetap terlihat tenang, seakan jawaban itu memang sudah diketahuinya sejak awal. ” Akhi, bila suatu kali antum naik sebuah kapal mengarungi lautan luas. Kapal itu ternyata sudah sangat bobrok. Layarnya banyak berlubang, kayunya banyak yang keropos bahkan kabinnya bau kotoran manusia. Lalu, apa yang akan antum lakukan untuk tetap sampai pada tujuan?”. Tanya sang murabbi dengan kiasan bermakna dalam. Sang mad’u terdiam dan berfikir. Tak kuasa hatinya mendapat umpan balik sedemikian tajam melalui kiasan yang amat tepat. ” Apakah antum memilih untuk terjun kelaut dan berenang sampai tujuan?”. Sang murabbi mencoba memberi opsi.

“Bila antum terjun ke laut, sesaat antum akan merasa senang. Bebas dari bau kotoran manusia, merasa kesegaran air laut, atau bebas bermain dengan ikan lumba-lumba . tapi itu hanya sesaat. Berapa kekuatan antum untuk berenang  hingga tujuan?. Bagaimana bila ikan hiu datang. Darimana antum mendapat makan dan minum? Bila malam datang, bagaimanan antum mengatasi hawa dingin?” serentetan pertanyaan dihamparkan dihadapan sang mad’u.

Tak ayal, sang mad’u menangis tersedu. Tak kuasa rasa hatinya menahan kegundahan sedemikian. Kekecewaannya kadung memuncak, namun sang murabbi yang dihormati justru tidak memberi jalan keluar yang sesuai dengan keinginannya.

“Akhi, apakah antum masih merasa bahwa jalan dakwah adalah jalan yang paling utama menuju ridho Allah?

” Bagaimana bila ternyata mobil yang antum kendarai dalam menempuh jalan itu ternyata mogok? Antum akan berjalan kaki  meninggalkan mobil itu tergeletak dijalan, atau mencoba memperbaikinya? . Tanya sang murabbi lagi.

Sang mad’u tetap terdiam dalam sesenggukan tangis perlahannya. Tiba-tiba ia mengangkat tangannya:”Cukup ustadz, cukup. Ana sadar.. maafkan Ana…. ana akan tetap Istiqomah. Ana berdakwah bukan untuk mendapatkan medali kehormatan. Atau agar setiap kata-kata ana diperhatikan… ” .

Continue reading