Kita itu harus…

1. Egois

Kita itu harus egois. Kita itu harus egois untuk mendapatkan ilmu yang bermanfaat terutama ilmu Islam. Seberapa keras kita untuk memperolehnya atau dengan kata lain ikhtiyar kita. Apakah ikhtiyar itu maksimal atau tidak maka nantinya itupula yang akan kita tuai diakhir usaha tersebut. Kita sedapatnya mempunyai moto yang berbunyi seperti ini

“jikalau hidup karena Allah, kenapa kita harus kecewa dan ada alasan karena makhluk”.

Hendaknya moto ini menjadi terdepan dalam kita berbuat, beramal, apalagi kita juga melakukan dakwah kepada manusia. Maka kita harus punya pemikiran egois, setelah kita memperoleh ilmu, agar cahaya islam yang pernah kita dapatkan, sampai kepada setiap target dakwah kita.

2. Keras Kepala

Kita itu harus keras kepala. Saudara/i ku, kita itu harus keras kepala mempertahankan dan menyebarkan ilmu yang kita dapatkan. Seberapa keras kepala kita, menghadapi dan mempertahankan apa yang menjadi pendapat ataupun alasan yang sesuai dengan objektifitasnya di forum-forum umum. Terkadang alasan kita dan peluang sudah ada untuk memberikan sistem yang baik di forum tersebut, tetapi kita kurang keras kepala. Dulu pernah  dengar ada dosen yang punya sifat keras kepala. Ketika itu di fakultas akan mengadakan acara Dies Natalis atau hari jadinya fakultas, maka disepakati adanya rapat dan saat itu dibahas bagaimana logo untuk acara dies natalis tersebut. Setiap dosen yang diundang pada rapat itu, mulai memberikan masukan, usul, ide-ide kreatif, begitu pula dengan sang dosen keras kepala ini. Semua orang tahu ide yang disampaikan dosen ini biasa-biasa aja, tapi sang dosen ini, tidak pernah berhenti untuk menjelaskan idenya ini. Sehingga akhirnya, ide dan usulnya pun diterima oleh forum rapat, Wallahu’alam apakah orang sudah bosan mendengar dia berpendapat, ataupun karena segan karena sang dosen ini juga merupakan dosen senior di kampus.

Saudara/i ku, coba bayangkan, apa yang dilakukan sang dosen, kita cobakan pada praktek dakwah kita??? InsyaAllah, banyak berkah yang diberikan Allah pada Muharrik dakwah ini. Tapi kita juga tidak boleh lupa caranya, yaitu cara yang Hasan seperti dalam QS. Ali Imran: 104 dan An Nahl: 125. Ayo, mari kita ingat lagi saudara/i ku?!

3. Cerewet

Kita harus jadi orang yg cerewet dalam mendakwahi dan mensyi’arkan Islam kepada orang lain. Saudara/i ku, terkadang dalam kehidupan kita, selagi kita terus mengamalkan apa yang sudah kita dapat dari tarbiyah kita, banyak hal yang kita lupa untuk cerewet dalam pengamalan. Poin ketiga ini sangatlah berhubungan dengan poin sebelumnya yaitu kenapa kita harus menjadi insan yang keras kepala. Mari kita pikirkan lagi, betapa banyak mad’u kita yang ‘lepas atau terbang’ tanpa arah karena kita tidak cerewet dalam menasehati mereka? Saudara/i ku, mereka itu akan rindu dan ingat dengan kecerewetan kita dalam mengingatkan hal-hal yang syar’i, misalnya shalat, sampai mereka bertanya: “kemana si fulan yang biasa mengingatkan saya untuk shalat?” walaupun hal ini tidaklah tujuan akhir kita, tapi maksimal mad’u kita ingat dan bertanya, sehingga Allah akhirnya menetapkan hidayah pada mereka untuk mengikuti apa yang pernah kita ingatkan dan kita ajak. “Ingat saudara/i ku sekalian, hidayah tidaklah milik kita, tapi itu semua milik Allah, kita hanya sebagai fasilitator saja, jika Allah ridha itu terjadi!”

4. Cengeng

Kita harus cengeng. Sebuah pertanyaan yang lucu memang kalau kita harus cengeng. tapi itulah seharusnya manusia. Dalam QS. Al-Maarij:19, Allah mengingatkan manusia lagi tentang manusia itu pada dasarnya suka mengeluh. Selain itu, kita semua sebagai manusia yang suka meminta. Saudara/i-ku, kita semua memang harus seperti itu, terkadang kita susah sekali untuk melakukan apa yang sudah menjadi sifat lahiriah kita tersebut. Sekarang mari kita tambah dengan cengeng, sering menangis. Hal ini tidak harus kita lakukan didepan orang, tapi kita harus lakukan ketika kita shalat dan meminta melalui do’a kita kepada Allah. Kita semua bisa dikatakan orang yang sombong atas nikmat yang sudah kita dapat dari Allah Azza wa Jalla. Kenapa demikian? karena setiap hari kita dapat nikmat dalam bentuk apa saja dari Allah, bahkan nafas yang kita dapat ketika bangun di pagi hari adalah nikmat yang bisa kita bisa nilai dengan apapun. Di rumah sakit saja, orang-orang banyak butuh oksigen dan membayar sejumlah uang untuk membayar oksigen tersebut. Pasien yang harus melakukan hemodialisa(cuci darah) sangat tergantung dengan mesin pencuci darah, serta bayangkan berapa dana yang harus mereka bayarkan tiap minggunya, dan banyak lagi karunia Allah yang terkadang kita lupa untuk bersyukur pada Allah Swt..

Saudara/i-ku, untuk itulah, kenapa kita kita harus cengeng dalam memuhasabahi apa yang kita lakukan setiap harinya. Iringilah dengan tangis setiap shalat-shalat kita, terutama paling khusus di shalat wajib dan disetiap qiyamulail kita serta diwaktu kita mau tidur atau dapat kita sebut mati sementara setiap harinya. Cengengnya kita mudah-mudahan jadi bukti ketidaksombongan kita akan hidup yang sebentar ini, minta ampun akan dosa-dosa yang kita perbuat, dan sebagai sarana meminta yang syar’i pada Allah agar kita semua mendapat pertolongan dengan dipermudahnya jalan dakwah yang kita jalani ini.

Silahkan kita renungi bersama tulisan kajian di atas saudara/i-ku, agar kita mempunyai pengingat dan rambu dalam menjalankan hidup dan kita bisa jauh dari kehidupan yang penuh dengan keangkuhan.

Astaghfirullahal’azhim, Wallahu’alam bisshawwab

denfathurrahman 4 1


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: